`eun yo pov
Kemarin adalah hari yang paling indah yang pernah aku lalui, aku senang karena bisa bertemu dengan idolaku. Idola yang selama ini aku dambakan, idola yang selalu aku bela dari para antisnya, idola yang selalu aku dukung pastinya. Mereka lengkap dengan 15 member, kejadian kemarin menjadi lebih menyenangkan karena aku dan mi hi sudah pernah dan kenal dengan henry oppa sebelumnya. Saat kami sedang liburan di China berdua dan kaka kami masing-masing. Waktu itu jae hyoon pergi ke italy dengan keluarganya. Di China tidak sengaja kita berdua bertemu dengan henry oppa di pasar malam terkenal di China. Henry oppa dan mi hi mudah sekali berkomunikasi karena mereka berdua mengerti bahasa mandarin, sedangkan aku berbicara dengan bahasa inggris dengan henry oppa.
“mi hi ah, bangun, jae hyoon udah kesel tuh.” Ucapku membangunkannya. “mmmm.” Responnya singkat. “cepat bangun dan sarapan, lalu tidur lagi.” Ucapku lagi. “aku ga lapar, nanti aja makan siang.” Jawabnya sambil terus tidur. “parli, jae hyoon udah manyun-manyun.” Jelasku. “aihhh.” Ucapnya singkat dan akhirnya bangun. Diapun masuk ke kamar mandi kamarnya, mencuci mukanya dan menggosok giginya.
`mi hi pov
Ini hari minggu, tapi kenapa harus bangun pagi seperti ini. “cha~ ayo makan.” Ucap eun yo yang baru datang ke meja makan bersamaku, dia baru datang karena menungguku untuk keluar kamar. “ne, aku makan.” Ucapku. Jonghoon oppa yang duduk di sebelahku menyenggol sikutku dan memberi signal bahwa jae hyoon sedang marah. “aihhhh, jae hyoon ah berapa usiamu?!” ucapku kesal. Jonghoon oppa menginjak kakiku keras karena kesal padaku. “aaa! Sakit!” teriakku. Jong hoon oppa memberiku signal lagi untuk meminta maaf pada jae hyoon. “hhhh, jae hyoon, mianhae. Semalam aku mengerjakan tugas, jadi aku baru bangun. Mianhada.” Ucapku panjang. “aku ga marah.” Ucapnya tanpa melihat kearahku. “aihhh aku udah diinjek sama jonghoon oppa, kamu ga kasian apa?” ucapku, dan lagi-lagi jong hoon oppa menginjak kakiku kini lebih keras. “ya! Jinjja apa!” ucapku dengan nada tinggi. Dia hanya terus memakan rotinya. “jae hyoon ah, mainhae.” Ucapku lagi. “aku ga marah mi hi~.” Ucapnya sekarang melihat kearahku walau hanya sebentar. “baiklah kalau ga marah, aku akan kembali tidur.” Ucapku lalu berdiri. “choi mihi! Habiskan makananmu!” ucap jae hyoon dengan nada tinggi. “tuh kan marah! Ayolah~ mianhae.” Ucapku sambil aegyo*astaga*. “habiskan dulu makananmu.” Perintah jae hyoon. “wah~ uri mi hi eonni takut dengan uri jae hyoon eonni.” Ucap eun yo datar. “ya! Bantu aku minta maaf malah ngeledek!” ucapku emosi. “hhhh.” Suara jae hyoon menahan tawanya. “ah tertawa! Tidak marah berarti! Aku makan~.” Ucapku dan eun yo berbarengan. “kan aku bilang aku ga marah!” jae hyoon membela diri. “ishhh ini tempat makan bukan ngobrol!” gerutu jong hoon oppa, sambil nerusin makan. Aku dan eun yopun menutup mulut agar ga kena omelan meja makannya jong hoon oppa.
`jae hyoon pov
Mi hi memang selalu tegas sekalipin itu ke jong hoon atau sung young oppa, dia selalu tegas pada peraturan, tapi setiap sarapan tiba, dia tidak akan bisa mengelak jika jong hoon oppa sudah marah. Dia selalu diam saat sarapan, mungkin memilih agar tidak kenal omelan meja makan jong hoon oppa. Begitu juga dengan eun yo, bahkan terkadang sung young oppapun kena omelan meja makan jong hoon oppa. Tapi, aku tidak pernah. Ya karena jong hoon oppa mencintaiku kekeke~*sasha terbang*. Selain karena jong hoon oppa cinta padaku, karena aku juga tidak mau melanggar peraturannya.
Sarapan sudah selesai, karena ini hari minggu, jika kami bertiga tidak pergi, makan setelah sarapan semua kembali ke rutinitas masing-masing. Minggu kali ini, eun yo diam di kamarnya karena janji untuk melakukan vidchat dengan sung young oppa, mi hi, kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Aku dan jong hoon oppa, hanya bermalas-malasan di sofa ruang tengah arpatement ini. “oppa, kapan kau akan kembali ke seoul?” tanyaku di sela-sela keheningan. “wae? Kau mau aku pulang?” tanyanya sinis. “ani~, kalau kau pulang minggu depan, mungkin aku bisa ikut.” Jawabku. “baiklah! Aku memang akan pulang minggu depan.” Ucap jong hoon oppa. “aihhhhh kenapa ga jawab aja tadi?!” gerutuku. “kan biar seru.” Jawabnya dengan muka datar. “aihhhhhh oppa!!” teriakku. “shhh jangan berisik, mi hi marah nanti.” Ucapnya ngebekap mulutku. “ya! Jangan berisik!” teriak mi hi dari kamarnya yang berada di depan ruang tengah. “tuh kan.” Ucap jong hoon oppa sambil nunjuk-nunjuk ga jelas. Aku hanya tertawa melihatnya.
`eun yo pov
Makan malam tiba, kali ini mi hi yang masak, entah kesambet apa dia nyampe masak buat makan malam. “mi hi a~, kesambet apaan kamu?” tanyaku meledek. “mwo? Pergilah makan diluar!” ucapnya kesal. “hahaha, becanda~. Mi hi ga bisa di ajak becanda deh.” Ledekku lagi. “ya! Sudah berapa kali aku bilang, ini bukan tempat untuk berdebat!” jong hoon oppa bertindak. “tuh denger!” ucap mi hi padaku. “kamu juga diam!” ucap jong hoon oppa pada mi hi. “yaudah oppa juga diem aja! Makan yang tenang.” Ucap mi hi membela dirinya. “ishhh kalian bertiga kaya anak kecil aja!” jae hyoon bertindak. “jadi kamu udah dewasa? Baiklah, kita harus menghormati jae hyoon.” Ucap jong hoon oppa ke aku dan mi hi. “chhh. Dasar aneh.” Ucap mi hi pelan. “ne? Dasar apa?” tanya jong hoon oppa. “dasar mancung!” ucap mi hi dengan kerasnya. “ya, diam, aku lagi makan!” ucapku di sela-sela makan. “tumben nyuruh diem, biasanya juga kamu yang nyerocos mulu.” Kritik jong hoon oppa. “jae hyoon ah~.” Rengekku, hal yang selalu ku lakukan ketika kesal dengan jong hoon oppa. “oppa diam.” Jelas jae hyoon singkat dan itu membuat jong hoon oppa dan mi hi berhenti berdebat. Hahaha, itulah alasannya kenapa aku selalu merengek ke jae hyoon tiap kali jong hoon oppa menyebalkan. Karena jong hoon oppa itu pasti taat pada jae hyoon. Makan malam selesai berhubung besok masuk aga siang, kami berempat berkumpul dulu di ruang tengah.
“minggu depan libur sekolah, aku akan ke seoul.” Ujarku saat suasana hening. “jong hoon oppa akan pulang juga minggu depan, dan aku ikut.” Ujar jae hyoon. “kau mi hi?” tanyaku. “molla.” Jawabnya singkat tanpa memalingkan pandangannya dari layar hpnya. “lalu, kalau kita bertiga ke seoul, kamu sendiri di sini gitu?” tanya jong hoon oppa. “lalu memang kenapa?” jawabnya santai. “andwae!!” ucapku dan jae hyoon berbarengan. “wae?” tanyanya heran. “kalau kamu sendiri di sini, terus ada apa-apa gimana?” tanyaku khawatir. “wae? Aku sudah besar.” Jawabnya datar. “bahaya tidak mengenal besar kecil.” Kritik jong hoon oppa.
`mi hi pov
“sekarang aku tanya, eun yo, kau ke seoul untuk apa?” tanyaku kesal. “untuk bertemu appa, eomma, dan oppa tentunya. Aku sangat merindukan mereka.” Jawabnya antusias. “lalu jika sudah di sana kamu mau ngapain?” tanyaku lagi. “aku mau bertemu dengan sung young oppa, aku kangen juga padanya.” Jawabnya lagi dengan ekspresi yang berbeda. “kau jae hyoon?” tanyaku pada jae hyoon. “mungkin tidak beda dengan eun yo, bertemu eomma, appa, eonni, ji yoon, dan menemani jong hoon oppa.” Jawabnya sambill ngeliat ke langit-langit. “intinya kalian akan bertemu dengan pasangan kalian masing-masing. Kalian tau aku tidak punya pasangan, lalu eonni yang entah pulang atau ga. Jadi aku tidak yakin apakah aku pulang atau tidak.” Ucapku datar. “mi hi a~, pulanglah bersama kami, kamu ga kangen appa, eommamu apa?” rengek jae hyoon padaku. “mereka bisa kesini jika aku memintanya.” Jawabku datar. “mi hi ah~ ayolah, ke seoul bersama kami!!” pinta eun yo. “aku akan menelpon eonni dulu nanti malam.” “aku akan tidur duluan. Annyeong!” ucapku lalu masuk ke kamar. Entah kenapa mereka begitu memaksaku untuk kembali ke seoul bersama mereka.
Saat di kamar aku menelpon ke eonni. Cukup lama aku menunggu untuk ada jawaban, dan akhirnya.
“yeobeoseyo?” ucap orang di sebrang, yang kukenali suaranya, itu suara eonni yang sudah lama tidakku dengar, namun aku begitu hafal dengan suaranya.
“yeobeoseyo. Eonni?” balasku.
“ah mi hi, sudah lama aku tidak mendengar suaramu”
“aku juga, minggu depan aku sudah masuk liburan semester, liburan selama 2 minggu.” Ceritaku.
“sincha? Aku juga minggu depan liburan semester dan tahun baru.” Balasnya.
“sincha? Apa eonni akan pulang ke seoul?” tanyaku langsung.
“bagaimana denganmu? Jika kau pulang aku juga akan pulang.” Jawabnya.
“eun yo, jae hyoon, dan jong hoon oppa mengajakku pulang. Tapi aku belum jawab, aku mau memastikan apa eonni pulang atau tidak.” Jelasku.
“baiklah, ayo kita pulang! Ayo kita ke rumah halmoni!” ajaknya.
“ayo! Ayo kita mandi lagi hehehe~.” Jawabku.
“jangan lupa untuk meminta izin.” Ucap eonni sambil cekakakan.
“baiklah, eonni sudah dulu ya, aku besok sekolah. Annyeong!” ucapku mengakhiri pembicaraan.
“ne, annyeong! Sekolah yang benar agar bisa pulang.” Ucapnya meledekku.
“arraseo! Jangan lupa untuk makan.” Ucapku mengingatkan.
“kau juga! Sudah tidur sana.” Perintahnya.
“ne, annyeong eonni!” ucapku.
“annyeong!” ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.
“yeobeoseyo?” ucap orang di sebrang, yang kukenali suaranya, itu suara eonni yang sudah lama tidakku dengar, namun aku begitu hafal dengan suaranya.
“yeobeoseyo. Eonni?” balasku.
“ah mi hi, sudah lama aku tidak mendengar suaramu”
“aku juga, minggu depan aku sudah masuk liburan semester, liburan selama 2 minggu.” Ceritaku.
“sincha? Aku juga minggu depan liburan semester dan tahun baru.” Balasnya.
“sincha? Apa eonni akan pulang ke seoul?” tanyaku langsung.
“bagaimana denganmu? Jika kau pulang aku juga akan pulang.” Jawabnya.
“eun yo, jae hyoon, dan jong hoon oppa mengajakku pulang. Tapi aku belum jawab, aku mau memastikan apa eonni pulang atau tidak.” Jelasku.
“baiklah, ayo kita pulang! Ayo kita ke rumah halmoni!” ajaknya.
“ayo! Ayo kita mandi lagi hehehe~.” Jawabku.
“jangan lupa untuk meminta izin.” Ucap eonni sambil cekakakan.
“baiklah, eonni sudah dulu ya, aku besok sekolah. Annyeong!” ucapku mengakhiri pembicaraan.
“ne, annyeong! Sekolah yang benar agar bisa pulang.” Ucapnya meledekku.
“arraseo! Jangan lupa untuk makan.” Ucapku mengingatkan.
“kau juga! Sudah tidur sana.” Perintahnya.
“ne, annyeong eonni!” ucapku.
“annyeong!” ucapnya lalu memutuskan sambungan telepon.
“Baiklah, aku ke seoul.” Gumamku sebelum tidur.
TBC
No comments:
Post a Comment