-dirumah-
`jong hoon pov
“igeum mwoya?” tanyaku ketika mereka bertiga
memberikanku sebuah undangan secara serempak. “an bo yeoyo? Keu jeodae!” ucap mi
hi. “ara! Nae maleun..” “keurom, mueoseul mueoga?” ucapnya memotong ucapanku.
“maksudku untuk apa?!” ucapku dengan nada tinggi. “untuk mengambil raport.”
Ucap jae hyoon padaku. “ah, ara. Haruskah aku buka?” tanyaku pada mereka semua.
“tentu!” ucap mereka serempak. “oke, yang pertama. Nae yeobo,” ucapku sambil
tersenyum pada jae hyoon, dia juga ikut tersenyum padaku. “hajiman, jeon-e
naega cheos kiseu!” ucapku ketika sudah hampir mengeluarkan undangannya. “ne?
Oppa a~ buka dulu.” Rengeknya. Aku hanya menyodorkan pipiku untuk dicium
olehnya. “pali kisseu!” suruh mi hi. “ahhh jinjjayo.” Keluh jae hyoon. “wae?
Kamu ga mau nyium aku?” tanyaku. “ah ani. Ada mereka di sini.” Ucapnya pelan.
“hahahaha ada-ada saja.” Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya. “wae? Ada masalah
dengan kita berdua?” gerutu eun yo. “ah ani, sudah di buka, nomor berapa?”
tanya jae hyoon antusias. “cheos beonjjae.” Ucapku setelah melihat undangannya.
“jinjjayo?” tanya jae hyoon tidak percaya. “ne, lihatlah.” Ucapku melihatkan
undangannya. “wah~ chukkae!” ucap eun yo dan mi hi berbarengan. “ah~
gamsahabnida.” Ucap jaehyoon lega. “oke, du beonjjae, so eun yo ssi.” Ucapku
sambil melihat kearah eun yo yang duduk di depanku di sebelah mi hi. “nomor
berapa?” tanyanya antusias. “cheos bonjjae ddo!” ucapku ketika melihat itu juga
1. “jinjjayo? Ah gamsahagoo.” Ucapnya lega. “chukkadeuribnida~!.” Ucap jae
hyoon dan mi hi berbarengan. “cha, sudah. Selamat malam!” ucapku lalu bangun
dari dudukku. “mwoya? Aku belum!!” protes mi hi. “ah kau juga bagi raport?”
ucapku memanasinya. “aihhh!! Cepatlah!” gerutunya lagi. “omo sasib-o.” Ucapku
dengan muka kaget. “kojitmala! Murid di kelasku Cuma 40!” protesnya lagi.
“hahahaha, cheos bonjjae ddo.” Ucapku sambil tertawa. “mwo?” tanyanya heran.
“wae? Haengbokhaji?” tanya jae hyoon. “kalau kita bertiga pertama, jong hoon
oppa ngambilnya gimana?” ujar mi hi. “ah itu bisa aku atur.” Jawabku santai. “sasil
eung? jojiamyeonjuui!” ujar mi hi. “ara!!” ucapku yakin. “sudah sudah. Sudah
malam. Tidur!!” ucapku menyuruh mereka masuk ke kamar masing-masing. “oppa
jaljayo~”
ucap jae hyoon dan mencium bibirku kilas sebelum masuk ke kamarnya. “jalja~” ucapku padanya. “ohok ohok ohok.” Eun yo batuk dengan sengaja. “mwoya?!” gerutuku. “ani~, aku batuk hahaha. Jalja~~.” Ucapnya riang.
ucap jae hyoon dan mencium bibirku kilas sebelum masuk ke kamarnya. “jalja~” ucapku padanya. “ohok ohok ohok.” Eun yo batuk dengan sengaja. “mwoya?!” gerutuku. “ani~, aku batuk hahaha. Jalja~~.” Ucapnya riang.
`author pov
“selamat malam. Bangun pagi besok bagi
raport!” ucap ketiga sahabat itu berbarengan. Mereka pun tidur di kamar
masing-masing. Besok mereka harus bangun lebih awal dari biasanya. Besok
adalahhari yang sangat penting untuk mereka. Hari dimana pembagian raport
berlasngsung. Mungkin ini adalah hal yang biasa saja bagi orang-orang. Tapi
bagi mereka, pembagian raport sangatlah istimewa. Apa lagi untuk jae hyoon.
Besok raportnya akan di ambil oleh orang yang di cintainya.
-pagi hari-
“ngggggg,” gumam mereka bertiga ketiga mulai
bangun. “ah bagi raport!” ucap mereka langsung ingat akan pembagian raport hari
ini. “ah! Telat. Andwae!!” gumam mereka di kamarnya masing-masing. Dengan
terburu-buru mereka langsung masuk ke kamar mandi kamar mereka dan pergi mandi
dengan terburu-buru. Di luar, jong hoon sudah bangun lebih awal. Dia tahu bahwa
akan terjadi saat seperti ini. Mereka pasti akan sangat terburu-buru untuk hari
ini. Karena itu, jong hoon bangun lebih awal hari ini, dan membuatkan mereka
sarapan walau hanya selembar roti dan segelas susu coklat kesukaan mereka.
Mereka sudah selesai dengan segala yang harus
mereka pakai dan bawa ke sekolah. Mereka keluar kamar dengan bersamaan, saling
melihat satu sama lain dan berkata. “ah! Sudah!” ucap mereka kompak walau
sebenarnya itu tidak di sengaja. Jong hoon yang melihatnya hanya tersenyum
dengan kelakuan 3 yeoja yang berada di depannya sekarang ini. “makan dulu!”
perintah jong hoon pada 3 yeoja yang sedang sibuk memakai sepatunya
masing-masing. “aku makan di mobil.” Ucap mereka bertiga berbarengan sambil
mengambil roti dan susu yang ada di meja makan. Eun yo dan mi hi langsung
keluar dengan roti di mulut dan susu di tangannya. Jae hyoon berpamitan ke jong
hoon terlebih dahulu. “oppa, aku berangkat lebih dulu. Pembagian raport pukul
9. Jangan lupa. Annyeong!” ucap jae hyoon pada jong hoon sambil mengecup bibir
jong hoon kilas. “arraseo. Berangkatlah, jangan sampai di tinggalkan.” Ucap
jong hoon pada jae hyoon. Jae hyoon hanya tersenyum pada jong hoon lalu pergi
berlali mengejar eun yo dan mi hi yang sudah keluar lebih dahulu. Fikiran jae
hyoon sudah tidak enak, dia merasa bahwa 2 sahabatnya itu sudah pergi
meninggalkan dia. “ahhh~” gumam jae hyoon lega. Dua sahabatnya itu masih berada
di depan lift, masih menunggu lift. Tidak lama jae hyoon datang, liftpun tiba
di lantai mereka. Karena ini masih sangat pagi, liftpun masih renggang.
`jae hyoon pov
“ahhh~.”
Gumamku tak jelas. “wae?” ucap mi hi dengan mulut yang penuh dengan roti.
“ani.” Ucapku senang. “ah, waso. Kajja!” ucapku pada mereka berdua. Kami
bertigapun masuk ke dalam lift dan turun ke lantai 1 karena mobil kami sudah
menunggu di bawah. Ini masih sekitar pukul 5.30 pagi hari, tapi kami sudah
terburu-buru karena takut terlambat datang ke sekolah. Walau hari ini pembagian
raport, tapi para siswa di wajibkan untuk datang pukul 6.00 di pagi hari.
Karena sekolah mewajibkan kami untuk membereskan kelas terlebih dahulu agar
terlihat rapi ketika pembagian raport di mulai. Kami sampai di sekolah, tanpa banyak
bicara kami langsung turun lalu masuk ke kelas masing-masing. Kami semua sibuk,
aku tahu itu walau aku tidak melihat mereka berdua. Pembagain raport kali ini,
aku mendapat tugas untuk menata barang-barang yang akan di simpan di dalam
kelas. Eun yo mendapat tugas membuat kelas menjadi terlihat indah di kelasnya.
Dan mi hi bertugas untuk memeriksa apakah semua sudah sempurna di kelasnya.
Waktu terus berjalan, waktupun sudah menunjukan pukul 8.45. dan jong hoon oppa
belum datang. Aihhhh eottheokae? Siapa yang mengambil raport kita bertiga
sedangkan dia hanya sendiri. “ahhhhhhhhhhhhh~~~!!!” tiba-tiba semua perempuan
teriak sangat keras. “ah mwoya.” Ucapku kaget. “akupun melihat kearah kerumunan
yang berteriak itu. “ah!” refleks aku berdiri melihat siapa yang datang.
“kenapa?” tanya teman-temanku serempak. “oh! Jae hyoon! Itu.....” ucapan
temanku terhenti ketika jong hoon oppa mengecup pipiku di depan mereka semua.
“aihhh oppa, kau hampir saja telat!” gerutuku. “hanya hampirkan? Ah ini
temanmu. Annyeonghaseyo!” sapa jong hoon oppa, kurasa dia telah membuat semua
temanku melting, karena tidak ada satupun dari mereka yang berbicara ketika
melihat jong hoon oppa. “oppa, mi hi dan eun yo?” tanyaku. Dia hanya
mengedipkan sebelah matanya. “harus aku masuk sekarang?” tanyanya. “ne! 5 menit
lagi akan di mulai.” Ucapku gelagapan. Jong hoon oppa mengisi buku tamu yang di
sediakan oleh sekolah, dan dia duduk di tempat dudukku sesuai petunjuk penjaga
yang menjaga buku tamu. “jae hyoon!” gerutu temanku, aku hanya tersenyum malu.
“siapamu dia?” tanya salah satu temanku lagi. “namja..” “pacarmu?” tanya mereka
serempak dan memotong pembicaraanku. Aku hanya tersenyum malu menanggapinya.
“oh! Jae hyonn! Kenapa kamu ga pernah bilang?” tanya salah satu temanku. “kami
memang tidak mau mengumbar hubungan kita.” Ucapku malu-malu. “berarti kita bisa
ketemu terus dong sama jong hoon oppa!” seru temaku riang. “aihhh! Ga boleh,
nanti kalian ambil lagi.” Gerutuku. “biar saja.” Ujar temanku serempak.
No comments:
Post a Comment